Begitupun dalam pekerjaan usaha, yang namanya resiko tersebut pasti tidak jarang kali ada dan tidak bakal pernah dapat dihilangkan. Tidak peduli besar atau kecil jenis usahanya dan tidak peduli jenis usaha apa yang sedang dijalankannya. Kalau anda menyadari bahwa resiko ialah teman sejati setiap tahapan kita, kawan terdekat dengan setiap pekerjaan bisnis kita, maka sangatlah tidak arif seandainya anda melupakan, menghindari ataupun menjauhi resiko tersebut. Resiko tersebut bukan guna dihindari, tetapi harus dihadapi dan dikelola. Karena bilamana kita dapat menghadapi dan mengelolanya dengan benar, maka kita dapat mengelola potensi-potensi kerugian yang ada. Ada seorang trader pernah berbicara seperti ini: "Jangan tanyakan untuk diri kita berapa persen kita siap menerima keuntungan, namun tanyakanlah berapa persen kita siap menanggung kerugian." Penyataan di atas menjadi sangat urgen karena bersangkutan erat dengan mental (emosi) anda saat mengerjakan trading. Kita pun akan memahami bagaimana mesti mengelola resiko yang telah terukur tersebut menjadi suatu keuntungan. Mungkin telah terlalu tidak sedikit bukti dari pengalaman semua trader yang tidak mempedulikan kerugian tersebut terus berjalan sebab tidak inginkan rugi dan bercita-cita harga bakal balik kembali. Pada akhirnya, ia justeru menderita kerugian yang cukup tidak sedikit karena asa itu melulu didasarkan pada ekspektasi kosong tanpa basis analisa yang jelas. Kenalilah resiko itu, bersahabatlah dengan resiko itu, dan kelolalah resiko itu. Maka anda akan dapat mengembangkan perniagaan sesuai dengan apa yang diharapkan. Jadi, tanyakanlah untuk diri sendiri sebelum mengerjakan trading forex, berapa persen mental Anda dapat atau mampu menanggung kerugian. Kemudian usahakanlah untuk mengelola potensi kerugian tersebut supaya menjadi keuntungan. Contoh Pengolalaan Resiko Trading kita punya modal trading $1000 dan secara emosional dapat menanggung kerugian maksimal sebesar $100 per posisi (1% dari modal).
Menyesuaikan kerugian maksimal dengan jumlah yang dapat Anda tanggung secara emosional dengan kata lain menakar seberapa besar loss yang menurut keterangan dari pandangan individu Anda masih wajar, sehingga andai benar terjadi, kita tidak menjadi stres dan berupaya "mengembalikan" kerugian itu bagaimanapun caranya. Katakanlah Anda telah merasa paling kehilangan bilamana kerugian telah melebihi $100 di satu posisi, maka batasi kerugian maksimal per trade di angka $100. Setelah memahami berapa jumlah kerugian maksimal cocok batas toleransi risiko Anda, maka selanjutnya atur manajemen resiko yang mengakomodasi standar tersebut. Bagi mengupayakannya, ada pelbagai cara yang dapat Anda pilih. Salah satunya ialah dengan memanfaatkan fitur Stop Loss yang dapat menutup posisi rugi secara otomatis pada level tertentu.
Di sini, Anda dapat menilai sendiri di level mana Stop Loss bakal terpicu. Apabila kita menilai besar kerugian per posisi tak dapat lebih dari $100, maka lumayan hitung nilai per pips dari setup posisi Anda, lalu pakai patokannya untuk menanam Stop Loss. Contohnya: kita open posisi buy EUR/USD pada harga 1.2000 dengan lot 0.1 (10,000 unit). Volume trading 0.1 lot sendiri mempunyai patokan nilai $1 per pips guna posisi trading EUR/USD. Oleh sebab itu, Anda lumayan mengkonversinya menjadi pips dengan perhitungan: $1 x $100 = 100 pips. Setelah mendapat hasil tersebut, maka Stop Loss ideal yang cocok batas toleransi risiko Anda merupakan: 1.2000 - 0.0100 = 1.1900. Perlu diketahui, pemakaian Stop Loss seringkali juga diiringi dengan Take Profit yang bermanfaat untuk mengunci deviden dengan teknik menutup posisi secara otomatis saat sedang profit. Karena besar resiko seringkali sebanding dengan kesempatan keuntungan, maka sesuaikanlah pemakaian Take Profit yang ideal dengan Stop Loss Anda.
Jangan terlampau jauh menautkan Take Profit di jarak 1000 pips dari Entry bilamana Stop Loss Anda hanya 100 pips. Biasanya, jarak Take Profit 3x dari Stop Loss telah menjadi ukuran maksimal untuk trader. Lebih dari itu, maka posisi kita rawan terpapar Stop Loss sebelum Take Profit tersentuh. Bagaimanapun juga, pasar tidak tidak jarang kali bergerak trending secara terus-menerus. Seperti yang disebutkan oleh Paul Tudor Jones: "Market melulu bergerak dalam trend selama 15 persen (dari total fluktuasinya); selebihnya, pasar melulu bergerak sideways."











